Selamat Datang Hujan, Selamat Datang Banjir… Selamat datang hujan. Jika ada mahluk yang merasa paling bahagia terhadap kehadiranmu, hampir bisa dipastikan, mereka bernama anak-anak. Di matanya, kau berarti sebuah kesenangan alias Entertainment gratis dari Sunatullah alam.
Meski kau hanya turun beberapa jam saja, alangkah senang mereka menyambutnya, ada yang berkejaran di jalan sambil telanjang dada, bermain sepeda-sepedaan, atau setidaknya menyobek buku pelajaran lalu melipatnya jadi perahu kertas, untuk dimainkan di genangan atau saluran air depan rumah. Tapi kini kau turun terlalu over, kau telah masuk menggenanggi rumah kami, sekaligus menggenangi ingatan anak-anak kami kelak, bahwa air, bagaimanapun menyenangkannya, suatu ketika dapat menjelma menjadi sesuatu yang mengancam.
Selamat datang hujan. Jika sudah turun berhari-hari, jelas kau banyak meresahkan. kami seperti dihantui sebuah kutukan, dan kami sebut namamu sebagai banjir, bencana yang abadi namanya dalam kitab suci, sebagai peringatan (sekaligus hukuman) Tuhan bagi umatnya yang lena lagi lupa sebagai mahlukNya.
Untuk yang kesekian kalinya, kau hadir kembali dalam rentang waktu yang cukup cepat, bahkan secepat kami menjadikanmu tertuduh dan terdakwa, sebagai sumber wabah dan petaka. Dakwaan itu biasanya hanya berakhir dengan pertanyaan sentimental yang itu-itu lagi, yakni soal adilkah manusia terhadap alamnya, atau adilkah Tuhan bagi umatNya...?
Tapi lagi-lagi hal ini sudah terlanjur menjadi alasan yang terlalu klasik untuk dikemukakan, bahwa jangan-jangan ia hanya menjadi pembalut dalam pikiran dan wacana kita tanpa pernah meresap ke dalam hati untuk kemudian dihayati dan dilakoni.
Selamat datang hujan, Berhari-hari kau turun hingga menggenangi bumi kami tercinta. Kau membuat kabupaten dan kota kami yang terdiri dari beberapa kecamatan tergenang, kau menggenangi kecamatan yang terdiri dari beberapa kelurahan dan desa kami, menggenangi rumah kami, sawah kami, sekolah kami, jalan raya kami, tambak-tambak kami, pertokoan kami, rumah sakit kami, kompleks pekuburan kami, bahkan hingga ke jiwa kami.
Selamat datang banjir, kau kini mengisi berita-berita di televisi hampir setiap menit, tidak mau kalah saing dengan gencarnya berita para pejabat yang korupsi dan kisah kawin cerainya selebriti. Lagi-lagi kau datang kali ini dengan cerita yang sama, cerita yang juga masih kita sambut dengan ekspresi yang itu-itu juga, apalagi kalau bukan duka bin nestapa.
Selamat datang banjir, gara-gara kamu, kami tersendat dari pekerjaan, kesenangan dan ketenangan, Tapi doa kami seolah-olah hendak menjebol langit, mencari-cari tangan Tuhan yang maha penolong, kami berdoa bersama, meski dalam hening dan renung yang berbeda-beda. Dalam derita berjama’ah, kami kembali ingat dan sadar, meski sebelumnya harus melalui ritual bencana alam dulu.
Selamat datang hujan, selamat datang banjir. Kau turun merata pun tidak pilih-pilih kasih, kau genangi rumah-rumah orang miskin dan orang kaya. Sungguh adil, solider benar kau kali ini. bisakah kami belajar dari keadilan dan rasa solidaritasmu itu? Tunggu dulu, sebab rasa-rasanya sekarang kami sempat melihat rasa solidaritas itu walau hanya sekilas.
Rasa-rasanya solidaritas itu, juga sibuk berseliweran ke sana kemari, mereka berhenti di setiap posko atau titik-titik keramaian, sambil menurunkan kaca mobilnya perlahan, lalu membagi-bagikan aneka bantuan. Sekilas ada pula yang iseng (baik pura-pura iseng atau iseng betulan) membagi-bagikan kalender “bermerk” pada kami. Maka dengan penuh takjub dan haru izinkanlah kami berdoa: ”Semoga rasa solidaritas terus memberikan solidaritasnya, bukan hanya saat-saat banjir atau bencana alam lainnya. Semoga solidaritas itu terus dibagi-bagikan pada kami, semudah mereka memberikan kalender-kalender “bermerk” itu. Amien..”
Selamat datang hujan, selamat datang banjir. Kalender-kalender “bermerk” itu dibagikan, seolah-olah kami ini sudah pikun atau imsonia dengan nama hari, tanggal, bulan, dan tahun yang tidak terasa begitu cepat berlalu. Kami memajang kalender itu di dinding-dinding rumah kami (lumayan, mumpung gratis he..he..he.) Dinding-dinding rumah kami kemudian berhiaskan janji-janji atau slogan tentang kesejahteraan. Begitulah .. namanya juga perhiasan, tentu ia terlalu mahal dan mewah untuk bisa kami mengerti .
Selamat datang hujan, selamat datang banjir, kedatanganmu kami sambut, seperti kami menyambut hari-hari yang besar. Dengan demikian penuhlah doa-doa di penjuru langit. Kabulkanlah ya Tuhan..inilah doa-doa kami yang penuh dengan pengharapan: “ Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin, Semoga hari besok lebih baik dari hari ini, Amien ”